RSS Feed

Writer vs Editor – Ria N. Badaria

Posted on

IMG_08052014_121220

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Info bibliografi :

Judul : Writer vs Editor

Pengarang : Ria N. Badaria

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2011

Halaman : 312

Buku ini juga merupakan salah satu buku yang kutemukan di dalam bazar buku Gramedia. Aku melihat resensi di sampul belakang, ceritanya cukup ringan, bisa menjadi selingan di antara buku-buku John Grisham yang juga kuborong. Apalagi tertulis bahwa pengarangnya Ria N. Badaria merupakan penulis muda berbakat terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009, jadi aku tak ragu merogoh kocek lebih kurang 20 ribu rupiah untuk membeli novel ini.

Tema utama novel ini sama dengan novel-novel sejenis yaitu tentang cinta, walau pada awal melihatnya di toko buku, aku kira buku ini tentang editor dalam industri media dan bukannya fiksi. Cerita berkisah tentang seorang gadis sederhana bernama Nuna, yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai di swalayan waralaba di daerah Bogor. Nuna bercita-cita jadi penulis, walaupun berkali-kali tulisannya ditolak oleh beberapa perusahaan penerbitan. Akhirnya doa Nuna terjawab, salah satu novel percintaannya akan diterbitkan oleh penerbit GlobalBooks. Sementara itu, Rengga merupakan editor yang ditunjuk GlobalBooks untuk memenang naskah milik Nuna. Rengga kesal karena sulit menghubungi Nuna untuk mendiskusikan revisi novelnya. Diceritakan beberapa peristiwa membuat komunikasi keduanya selalu tidak berjodoh, jadilah Rengga menganggap Nuna sebagai penulis baru yang tidak profesional, sedangkan Nuna menilai Rengga sebagai editor yang ketus dan galak. Singkat cerita akhirnya keduanya bertemu. Beberapa kesempatan membuat keduanya bersama dan lebih mengenal, Rengga yang baru berpisah dengan pacaranya mulai menyukai Nuna.

Di lain pihak, ternyata cinta lama Nuna, Arfat, justru masuk menjadi bos baru Rengga. Nuna pun berhadapan dengan cinta dua pria. Arfat selangkah lebih maju dari Rengga, akhirnya berpacaran dengan Nuna. Rengga pun malas harus bersaing dengan bos nya sendiri, namun tetap tidak bisa melupakan Nuna. Tarik ulur terus terjadi sampai akhir cerita, dan nampaknya sudah bisa ditebak bagaimana akhir kisah ini.

Sebenarnya cerita novel ini sederhana saja, kisah cinta segitiga, tentang bagaimana menetapkan pilihan hati. Yang jelas bagiku novel ini memberikan pengetahuan baru tentang dunia penulis dan penerbit, bagaimana sebuah naskah yang dikirim ke penerbit bisa sampai naik cetak. Oh ternyata seperti itu toh. Dunia penerbitan ini nampaknya sama dinamisnya dengan dunia media. Nah kalau bicara soal karakter tokohnya menurutku terlalu biasa. Dialog-dialog yang ada tidak cukup menunjukkan kekuatan masing-masing karakter. Sampai sekarang aku masih sulit membayangkan tampang Nuna, selain gadis kampung biasa. Maaf. Tapi biasanya pengarang cukup banyak menggambarkan penampilan sang tokoh untuk membantu pembaca berimajinasi. Jadi dalam novel ini selain karakter sifat yang tidak menonjol, penampilannya pun tidak bisa dibayangkan. Jadilah imajinasiku berkutat di FTV SCTV yang tayang setiap harinya. Bagiku, yang karakternya jelas cuma mantan Rengga, Marsya, dan teman Rengga, Radit.

Untuk alur cerita, sebenarnya cukup menyenangkan, walau banyak hal yang kebetulan. Terlalu banyak bahkan. Ceritanya pun naik turun dengan cepat. Namun satu poin yang cukup menggangguku, ada peristiwa-peristiwa yang kurang dijelaskan lebih mendetail, misalnya apa alasan Rengga bertahan dengan Marsya sebegitu lama walau tahu Marsya terlalu boros dengan uang pribadi Rengga. Siapapun yang membaca pasti langsung berada pada pihak berlawanan dengan Marsya dan mengganggap Rengga sangat bodoh. Kalau ibarat drama Korea, tidak ada tokoh yang benar-benar antagonis, benar-benar hitam dan putih. Selalu ada alasan yang membuat pembaca atau penonton berpikir “iya juga sih, wajar aja kelakuannya gitu”. Rengga dituliskan sempat berpikir bahwa orang lain dengan mudah menyarankannya untuk memutuskan Marsya, sedangkan untuk Rengga hal itu tidak mudah. Tapi kenapa, itu yang tidak jelas. Ketidakjelasan lainnya seperti kenapa Arfat tidak membalas SMS Nuna yang terakhir, apa cuma karena tidak suka gaya becanda Nuna? Aku mengira hal ini cukup penting pada awalnya, namun kecewa karena ternyata Arfat tidak mau membahas hal tersebut ketika ditanyakan oleh Nuna. Dan selesai di situ saja pembicaraannya. Gubrak.

Tapi secara umum novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Kisah yang ringan, membuatku bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu yang benar-benar singkat. Untuk penggemar kisah metropop, layaklah untuk dimasukkan dalam daftar bacaan.

 

Rate : ***

Advertisements

The Bone Collector – Jeffery Deaver

Posted on

Jeffery_Deaver_The_Bone_Collector

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi bibliografi :

Judul : The Bone Collector

Pengarang : Jeffery Deaver

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2007

Halaman : 616

Rasanya senang bukan kepalang menemukan novel The Bone Collector ini di antara tumpukan buku di bazar buku Gramedia. Buku Jeffery Deaver ini sudah lama kucari-cari. Aku terhitung terlambat mengumpulkan karya Jeffery Deaver, novel pertama Deaver yang kubaca justru The Vanished Man, padahal kalau mengikuti tokoh utama kisah ini yaitu Lincoln Rhyme, The Bone Collectorlah seri pertamanya.

The Bone Collector merupakan serial tentang seorang mantan detektif forensik NYPD bernama Lincoln Rhyme. Rhyme dulunya mengepalai  Central Investigation and Resource Division di NYPD namun terpaksa harus pensiun dini karena mengalami kecelakaan saat bertugas. Rhyme kini tak lebih hanya seorang pria penderita quadriplegia – kelumpuhan total dari leher ke bawah, yang menghabiskan waktunya di atas tempat tidur selama bertahun-tahun. Padahal sebelumnya prestasi Rhyme dalam menangani forensik TKP dan pengungkapan kasus sangat mengagumkan dan diakui.

Rhyme kembali dilibatkan dalam sebuah kasus pembunuhan yang kemudian menjadi pembunuhan berantai. Seorang pria menculik  pria dan wanita di bandara JFK dengan menyamar sebagai supir taxi, tak lama tubuh sang pria ditemukan terkubur dengan sebelah tangannya mencuat ke permukaan tanah. Sadisnya, satu jari tangannya dikuliti, hingga ke tulang. Petugas pertama yang tiba di TKP kejadian adalah seorang polisi patroli perempuan bernama Amelia Sachs. Sang pembunuh cukup berhati-hati membersihkan identitasnya dari TKP, namun justru sengaja meninggalkan sejumlah petunjuk untuk mengarahkan polisi pada korban selanjutnya. Atas desakan yang cukup kuat, Rhyme bersedia membantu menangani TKP kasus ini, walau kini dirinya hanya seorang warga sipil biasa.

Karena tak bisa bergerak dari kamarnya, Rhyme meminta Amelia Sachs untuk menjadi mata dan telinga Rhyme di TKP. Sachs dipaksa oleh Rhyme melakukan pemeriksaan TKP melalui telepon, hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang petugas patroli. Lambat laun, Sachs mulai memahami cara menangani TKP, melihat, membaui bahkan berpikir seperti tersangka. Korban kedua berhasil ditemukan tewas terborgol di ruang bawah tanah yang merupakan jalur pipa uap panas kota. Dengan petunjuk yang ditinggalkan di TKP, mereka berpacu dengan waktu menganalisis dan menyimpulkan dimana lokasi korban berikutnya. Kamar Rhyme mendadak disulap menjadi laboratorium mini dengan alat-alat canggih guna menganalisis bukti-bukti forensik. Sang tersangka diceritakan terobsesi dengan seorang pembunuh berantai James Schneider, sang kolektor tulang. Ia mencoba meniru persis apa yang dilakukan oleh sang patron, dengan tujuan akhirnya membalas dendam pada Lincoln Rhyme.

Karena sudah memulai membaca buku ini dengan perasaan sangat subjektif, aku dengan senang hati mengatakan bahwa buku ini bagus. Lincoln Rhyme memang digambarkan sebagai tokoh yang sangat cerdas, dengan pengetahuan luas dan analisis tajam. Rhyme bahkan bisa mengenali tanah atau debu berasal dari daerah mana hanya dengan mengetahui kandungannya. Kepandaian Rhyme memang nampak mengarah pada kejeniusan, namun karena di sisi lain Rhyme adalah pria lumpuh, kepintarannya nampak cukup manusiawi. Seperti buku-buku Jeffery Deaver lainnya, penjelasan kasus-kasus dalam kisah ini juga sekaligus mengajarkan banyak hal pada pembaca, seakan pembaca pun diajak untuk menjadi pintar bersama Rhyme.

Sisi lain yang kusukai dari novel ini adalah ketertarikan Rhyme kepada Amalia Sachs dan sebaliknya. Komunikasi intens mereka melalui telepon selama menangani TKP membuat mereka memiliki keterikatan emosional besar satu sama lain. Bumbu romantis di tengah ketegangan penanganan kasus ini jelas menambah nilai plus buku ini di mataku.

Bagi pencinta kisah-kisah detektif, buku ini sangat kurekomendasikan. The Bone Collector juga sudah difilmkan tahun 1999 dengan pemain Denzel Washington sebagai Rhyme dan Angelina Jolie sebagai Sachs. Namun jujur, aku tidak menyukai sosok Rhyme diperankan oleh Denzel Washington, karena sangat berbeda dengan Rhyme dalam imajinasiku. Itu saja.

 

Rate : ****

 

Captive of My Desires – Johanna Lindsey

Posted on

captive

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi bibliografi :

Judul : Captive of My Desire

Pengarang : Johanna Lindsey

Penerbit : GagasMedia

Tahun : 2010

Halaman : vii + 428

Novel karangan Johanna Lindsey sudah sering kulihat, beberapa novelnya menghiasi rak-rak buku di toko buku terkemuka. Bahkan aku sempat membaca ringkasannya di bagian belakang buku, namun tak pernah ikhlas merogoh kocek untuk membeli buku-bukunya yang bila kukategorikan masuk dalam segmen ‘roman panas’. Yap, sudah beberapa tahun terakhir aku berganti genre bacaan dan meninggalkan kisah-kisah percintaan dengan bumbu seks yang kuat. Namun suatu saat, aku terdampar di sebuah bazar buku dengan pilihan yang sangat terbatas. Novel ini kudapatkan seharga 15 ribu saja. Tak apalah untuk mengisi waktu dan selingan di antara novel-novel lain yang lebih serius. Kita mulai.

Aku tak tahu bahwa novel-novel Johanna Lindsey merupakan serial, dan buku ini merupakan serial ke 8, setelah : Love Only Once, Tender Rebel, Gentle Rogue, The Magic of You, Say You Love Me, The Present, dan A Loving Scoundrel. Di awal buku cukup sulit mengingat banyaknya nama dalam keluarga Malory, salah satu keluarga terpandang di London. Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Gabrielle Brooks, yang sepeninggal ibunya, memilih untuk pergi mencari ayahnya yang memang jarang tinggal bersama dirinya dan almarhum ibunya. Naas, kapal yang ditumpangi Gabrielle bertemu perompak, dan ia bersama pelayannya pun ditawan. Gabrielle sendiri mengakui bahwa dirinya terkejut mengetahui masih ada perompak yang beraksi pada zaman seperti zaman Gabrielle saat itu.  Tanpa disangka, Gabrielle diselamatkan oleh seorang kapten kapal, yang tak lain adalah ayah Gabrielle sendiri. Singkat cerita, Gabrielle mulai menikmati kehidupan laut bersama ayahnya, sampai sang ayah mulai memikirkan jodoh bagi putrinya. Tak mungkin mendapatkan jodoh yang baik di Karibia, Gabrielle pun dikirim kembali ke London kepada keluarga Malory untuk dibantu dalam musim perburuan jodoh, yang merupakan tradisi bagi para lajang di sana. James Malory berhutang nyawa pada ayah Gabrielle, sehingga tak keberatan membantu Gabrielle mencari jodoh di Inggris.

Saat mulai menghadiri berbagai pesta dalam rangka perburuan jodoh, Gabrielle justru tertarik pada saudara ipar James Malory, Drew Anderson. Keduanya kerap beradu mulut, namun tak bisa dipungkiri mereka tertarik satu sama lain. Gabrielle tak keberatan memasukkan Drew sebagai peringkat teratas dalam daftar calon suaminya, namun di sisi lain, Drew merupakan petualang yang tak memasukkan kata ‘menikah’ dalam agenda hidupnya. Sampai Gabrielle mendapat kabar bahwa ayahnya ditangkap oleh perompak, dan ia harus menyelamatkannya. Dengan alasan membalas perbuatan Drew, Gabrielle pun berangkat mencari ayahnya dengan membajak kapal milik Drew. Perjalanan panjang penuh dengan lika-liku di atas kapal, hingga akhirnya sudah bisa ditebak.

Pada dasarnya bagiku kisah percintaan macam ini sama halnya dengan kisah percintaan umum yang dimulai dengan saling tak suka dan penuh perselisihan. Seperti juga dengan menonton ftv. Tak ada yang terlalu spesial dengan cara mereka jatuh cinta. Gabrielle dan Drew layaknya cinta pada pandangan pertama, tanpa kenal, hanya satu pertemuan tapi sudah meninggalkan kesan yang mendalam. Belum lagi bumbu seks dalam kisah ini sangat kental. Keduanya digambarkan selalu dipenuhi gairah yang menggebu-gebu satu sama lain, ketertarikan fisik sangat mendominasi, Drew digambarkan sebagai sosok pelaut yang gagah, begitu pun dengan Gabrielle juga merupakan gadis rupawan. Bahkan setelah kuingat-ingat lagi, semua anggota keluarga Malory digambarkan oleh Lindsey punya karunia fisik yang luar biasa. Aku tak pernah membayangkan berada salam satu rumah berisi keluarga besar yang semuanya cantik dan tampan.

Secara keseluruhan, novel ini mungkin bisa dinikmati oleh pencinta romantisme atau bacaan sejenis, namun menurutku ada bagian-bagian yang berlebihan penggambarannya. Keluarga Malory terlalu lekat dengan skandal dan kisah fantastis, lebih terkesan khayalan daripada realita. Belum lagi ada beberapa kesalahan ketik dalam novel ini, seperti huruf yang kurang atau huruf yang salah. Jadi ya buatku novel ini biasa.

Rate : **

 

Pride and Prejudice – Jane Austen

pp

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi bibliografi

Judul : Pride and Prejudice

Pengarang : Jane Austen

Penerbit : Penerbit Qanita

Tahun : Februari 2011

Halaman : 588

Pride and Prejudice karya Jane Austen ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1813, dan merupakan best seller selama hampir 200 tahun,, kisah sastra lama Inggris ini sudah sangat mendunia dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa,, aku sendiri baru memutuskan membeli novel ini atas dorongan seorang teman, yang mengangkat buku ini sebagai bahan skripsinya.

Kisah ini berlatar pada kehidupan keluarga-keluarga Inggris pada abad 19, yang penuh dengan sentuhan mengenai kehidupan sosial, nilai-nilai moral, pendidikan, perbedaan kelas, pernikahan, dan tata krama. Berkisah tentang seorang gadis bernama Elizabeth Bennet, putri kedua dari lima bersaudari pasangan Bennet dan seorang pria dari keluarga termashyur Inggris bernama Fitzwilliam Darcy.

Kebanggaan akan pernikahan nampaknya menjadi hal yang cukup penting bagi sebuah keluarga saat itu, apalagi bila hal tersebut menjadi sebuah nilai plus dibandingkan dengan keluarga lain. Ditambah lagi bila yang meminang sang gadis berasal dari keluarga baik-baik, terhormat dengan kekayaan yang menjanjikan. Begitulah perasaan sejumlah keluarga ketika kedatangan keluarga Bingley yang menyewa rumah besar Netherfield Park di dekat kediaman keluarga Bennet. Charles Bingley merupakan calon suami potensial bagi putri tertua keluarga Bennet, Jane. Perangai Bingley yang sangat santun dan menyenangkan berbeda jauh dengan sahabatnya Fitzwilliam Darcy yang justru pendiam, angkuh dan lebih memilih bergaul dengan kalangannya saja.

Sejumlah masalah keluarga, seringkali mempertemukan Elizabeth dan Mr. Darcy dalam berbagai kesempatan tak terduga. Kisah-kisah buruk yang didengar Elizabeth dari teman masa kecil Mr. Darcy menjadikan Elizabeth sangat membenci pria itu. Ditambah lagi Mr. Darcy diduga kuat sebagai dalang rusaknya hubungan Bingley dan Jane. Darcy yang diam-diam menyukai Elizabeth terpaksa menelan pil pahit ditolak cintanya oleh Elizabeth dengan alasan-alasan tadi. Namun dengan cara yang tak disangka oleh Elizabeth, Mr. Darcy menunjukkan kebaikan hatinya melalui bantuan-bantuan berarti untuk keluarga Bennet. Satu demi satu peristiwa mengubah pandangan Elizabeth terhadap Mr. Darcy dan menumbuhkan cinta di hatinya untuk pria itu.

Membaca buku ini membawaku kembali ke masa itu, dimana kehidupan sosial dan perbedaan kelas masih menjadi hal yang sangat penting. Hari-hari mereka diisi dengan pesta dansa, undangan jamuan makan bersama, berburu, minum teh serta permainan kartu. Mereka bahkan memiliki ruang-ruang khusus untuk beraktifitas dan yang paling mencolok dalam kisah ini adalah ruang menggambar, dimana mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol, minum teh, bermain piano, menikmati kudapan dan bermain kartu di ruangan tersebut. Satu hal menarik lainnya yang kunikmati dari kisah ini adalah bahasa berbunga-bunga, santun, penuh pujian dan sanjungan yang digunakan pada masa itu. Semuanya dijelaskan secara mendetail oleh Austen.

Penggambaran suasana, tempat dan karakter tokoh digambarkan dengan sangat baik. Pembaca bisa membayangkan dengan jelas berbagai tempat dan ruangan yang dimaksudkan. Perasaan yang dirasakan para tokoh pun dituliskan dengan sangat jujur dan tidak berlebihan. Austen juga memasukkan dialog-dialog yang cerdas antar tokoh, yang nampaknya sangat khas dengan gaya berbicara pada masa itu.

Pada dasarnya kisah percintaan yang dialami Elizabeth dan Mr. Darcy kini sangat lumrah kita temukan dalam roman-roman percintaan modern baik berbentuk novel maupun film. Namun setting dan kekayaan rasa Pride and Prejudice inilah yang membuat novel ini tetap layak untuk dibaca dan dinikmati.

 

Rate : ****

 

The Casual Vacancy – J.K. Rowling

casual-vacancy-cover-art-hi-res

 

 

 

 

 

 

 

 

Informasi bibliografi :

Judul : The Casual Vacancy

Pengarang : J.K. Rowling

Penerbit : Penerbit Qanita

Tahun : 2012

Halaman : 596

Ini merupakan novel pertama Rowling untuk pembaca dewasa, setelah sempat sukses dengan 7 buku Harry Potter yang seluruhnya sudah diangkat ke layar lebar. Buku ini bercerita tentang kehidupan sebuah kota kecil di Inggris, Pagford, yang merupakan bagian dari distrik Yarvil. Layaknya semua kota kecil, warganya saling mengenal dan sering bersinggungan ketika berinteraksi. Salah seorang anggota dewan kota bernama Barry Fairbrother meninggal dunia. Barry dikenal sebagai anggota dewan yang selalu memperjuangkan Fields menjadi bagian Pagford. Fields merupakan sebuah pemukiman cukup kumuh yang dibangun oleh dewan distrik Yarvil yang penduduknya mayoritas keluarga miskin, anak peminta-minta, pecandu narkoba dan ibu-ibu dengan anak yang tak jelas ayahnya. Pagford pun menanggung beberapa biaya pemeliharaan Fields. Kubu Barry di dewan kota selalu mendukung Fields jadi bagian Pagford sedangkan kubu lain mati-matian ingin mengeluarkan Fields karena memakan biaya dan merusak keindahan kota Pagford.

Kematian Barry jelas meninggalkan satu kursi kosong di dewan kota, dan ini memicu persaingan ketat antara dua kubu, pro Fields dan anti Fields. Ambisi mengisi kursi kosong ini pun ternyata dibarengi dengan konflik-konflik internal keluarga. Banyak perasaan terpendam dalam hubungan suami-istri dan orang tua anak yang memuncak dengan munculnya pesan-pesan misterius di situs dewan kota, yang membuka rahasia-rahasia kelam para anggota dewan kota maupun calon-calon yang akan bertarung memperebutkan kursi kosong di dewan.

Pertama kali membaca buku ini, aku merasa bingung dengan banyaknya nama tokoh di kota Pagford. Beberapa keluarga menjadi inti cerita. Rowling menceritakan karakter masing-masing dengan cukup jelas, sehingga pada awalnya pembaca dibombardir dengan banyak informasi untuk diserap. Namun inilah keunggulan Rowling mampu menggambarkan kepribadian masing-masing tokoh dengan sangat baik. Konflik dalam buku ini bagiku tidak telalu memuncak melainkan cukup landai, karena permasalahan para warga Pagford ini menurutku hanyalah masalah komunikasi dan keterbukaan satu sama lain, antara suami dan istri, antara orang tua dan anak serta hubungan-hubungan lain, dan kematian Barry Fairbrother menjadi momentum pengungkapan perasaan-perasaan terpendam itu.

Kelebihan Rowling lainnya yang juga kutemukan saat membaca Harry Potter adalah keterkaitan tokoh-tokoh dalam cerita. Rowling menggambarkan secara natural bagaimana setiap sisi cerita pasti bersinggungan, terlebih karena kehidupan kota kecil Pagford. Setiap tokoh bergesekan dengan cara yang wajar dan tidak dipaksakan. Banyak pula bagian-bagian yang mengejutkan dan tidak terprediksi oleh pembaca.

Walaupun bukan cerita dengan konflik fantastis, namun nilai sosial dalam buku ini sangat kuat.

Rate : ***

How Starbucks Saved My Life – Michael Gates Gill

starbucks

Informasi bibliografi :

Judul : How Starbucks Saved My Life

Pengarang : Michael Gates Gill

Penerbit : Penerbit Literati

Tahun : 2012

Halaman : 385

This is a great book! seriously,, baru kali ini aku benar-benar sepakat dengan review yang dibuat oleh seseorang ataupun sebuah media terhadap sebuah buku,, New York Post menulis : “kisah yang menginspirasi” untuk tulisan ini, dan aku benar-benar menyetujuinya,,

Buku ini merupakan sebuah kisah nyata kehidupan seorang pria bernama Michael Gates Gill (Mike), pria kaya yang dibesarkan dengan kondisi berkecukupan di Upper East Side, Manhattan, menyelesaikan sekolahnya dengan baik di Yale, dan bekerja hingga mencapai posisi tinggi di sebuah agensi periklanan terkemuka J. Walter Thompson Company. Namun roda kehidupan berputar dan di usia yang tak muda lagi, perusahaannya terpaksa melakukan penyegaran karyawan, Mike pun berakhir tanpa pekerjaan. Belum lagi ditambah dengan memburuknya hubungan di dalam keluarganya, fakta bahwa dirinya ternyata memiliki anak dengan wanita lain dan sebuah tumor yang mulai berkembang di otaknya menjadikan jerat masalah hidup Mike semakin sulit.

Hingga lebih dari 10 tahun setelah pemecatannya, tak ada usaha Mike yang berhasil memperbaiki kondisi ekonominya. Masih dengan dandanan parlente, Mike menghabiskan hari-harinya menikmati secangkir Latte di kedai kopi terkenal Starbucks sambil terus memutar otak bagaimana harus melanjutkan hidupnya. Di sanalah Mike bertemu dengan Crystal, wanita keturunan Afrika Amerika yang menawarinya sebuah pekerjaan sebagai pramusaji Starbucks. Karena tak punya banyak pilihan, Mike pun menerima pekerjaan tersebut, dan cukup kaget karena ternyata penempatannya di Ninety-Third and Broadway, daerah yang jauh sekali kondisinya dari daerah elit tempatnya dibesarkan. Bahkan nyaris seluruh partner rekan kerjanya merupakan keturunan Afrika Amerika, ras yang dulu dipandang sebelah mata olehnya.

Namun ternyata pengalaman bekerja di restoran kopi dengan jaringan terbesar di dunia itu mengajarkan banyak hal padanya. Mike belajar untuk menaruh hormat pada siapapun tanpa memandang latar belakang, Mike mengalahkan gengsinya, meninggalkan masa lalunya, dan fokus pada kebahagiaan melalui pekerjaannya saat ini. Mike menuliskan betapa hidupnya berubah dan juga membawa perubahan pada lingkungan kerjanya. Mike terbiasa menyapa setiap tamu, mengenal pesanan rutin mereka dan berbicara dengan mereka tentang hidup. Nilai yang tak diperolehnya di pekerjaan terdahulunya.

Bagiku buku ini terasa sangat jujur. Michael Gates Gill menggambarkan kekalutan pikirannya di usia yang sudah melebihi 60 tahun dan jatuh dari puncak, sangat bisa kurasakan. Setiap pelajaran hidup yang dipetik oleh Mike seringkali dilengkapi dengan kisah masa lalu Mike baik dalam pekerjaannya dahulu ataupun  masa kecilnya, semua kilas balik itu seakan menjadi komparasi perubahan hidup Mike. Prinsip-prinsip kerja Starbucks juga dituangkan melalui mengalaman-pengalaman yang menyentuh.

Entahlah apa memang Starbucks benar-benar punya budaya kerja seperti yang dikisahkan oleh Mike, bila iya, maka itu akan benar-benar keren. Banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dan berguna secara nyata. Akhir buku ini tidaklah menceritakan Mike sampai pada titik mapan secara ekonomi kembali seperti yang kuharapkan ketika awal membaca buku ini, namun sampai pada Mike bisa mendefiniskan bahwa hidupnya saat ini sangat bahagia.

Pelajaran dalam buku ini bisa disimpulkan dengan 3 hal :

1. Melompat… dengan rasa percaya diri.

2. Melihat… dengan penuh rasa hormat.

3. Mendengarkan… apa kata hati anda untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun, terutama akan sangat bermanfaat bagi jiwa-jiwa yang sedang terpuruk dan sedang berusaha untuk bangkit. Recommended!

NB : aku suka kutipan-kutipan yang dicetak di cangkir-cangkir kopi Starbucks, yang menjadi pembuka setiap bab buku ini..

Rate : *****

The Chocolate Thief – Laura Florand

Image

Informasi bibliografi :

Judul : The Chocolate Thief

Pengarang : Laura Florand

Penerbit : Pnerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)

Tahun : 2013

Halaman : 410

The Chocolate Thief merupakan satu dari 4 serial Cokelat Laura Florand : The Chocolate Kiss, Chocolate Touch, The Chocolate Heart. Tiga buku lainnya akan diterbitkan oleh penerbit yang sama pada 2013 ini juga.

The Chocolate Thief bersetting di Paris, kota yang memang terkenal dengan romantismenya. Berkisah tentang seorang gadis bernama Cade Corey, yang merupakan pewaris dari perusahaan besar Corey Chocolate, perusahaan cokelat terbesar di Amerika. Corey digambarkan gigih untuk menemukan lini bisnis baru bagi perusahaan keluarganya, yang selama ini terkenal dengan cokelat Corey Bars, yang diproduksi secara massal dan mudah di temukan di Walmart terdekat. Untuk itulah Cade datang ke Paris dan bermaksud membeli ‘brand’ pembuat cokelat terbaik di Paris agar bisa diproduksi di Corey Chocolate. Tapi apa mau di kata, pembuat cokelat terbaik di Paris Sylvain Marquis, menolak mentah-mentah tawarannya. Cade yang tak kenal menyerah sempat menyamar untuk mengikuti pelatihan pembuatan coklat di atelier (ruang kerja / workshop) Sylvain bahkan masuk ke toko Sylvain secara diam-diam pada malam hari untuk melihat apa rahasia begitu enaknya cokelat Sylvain. Kedatangan diam-diam Cade ternyata meninggalkan cukup banyak bekas, dan muncullah berita mengenai pencuri cokelat di toko Sylvain yang sempat mencoreng nama keluarga Corey. Siapa sangka perseteruan Cade dan Sylvain berakhir dengan ketertarikan satu sama lain.

Buku ini banyak di tulis dengan ucapan-ucapan dalam bahasa Perancis, yang sebagian besar disertai dengan catatan kaki artinya. Penggambaran karakter Cade dan Sylvain cukup kuat. Cade yang spontan dan instingtif  serta Sylvain yang nampaknya mencerminkan pria Perancis : berpikir secara mendalam dan juga romantis. Di tengah-tengah membaca buku ini aku bahkan sempat mengirim pesan singkat pada temanku : laki-laki perancis itu beneran romantis ya?

Selain karakter, setting tempat yang digambarkan Laura juga cukup detil. Pembaca nampaknya bisa membayangkan suasana kota Paris, jalan, sungai Seine, sampai bagaimana dinginnya udara Paris jelang Natal.

Laura kadang tidak mendeskripsikan sebuah peristiwa secara rinci, hingga aku sebagai pembaca harus menebak-nebak apa yang sebenarnya dilakukan oleh Cade dan Sylvain dengan pasti, namun jawabannya selalu kutemukan pada bab-bab berikutnya.

Secara keseluruhan, novel ini layak dibaca bagi pencinta romantisme yang bukan picisan.

Rate : ****